the history of us
Keluarga kami diawali tahun 2003, saat aku melamar gadis idamanku, Tita, pada tanggal 15 Agustus 2003. Pernikahan indah itu dilangsungkan pada 7 September 2003 di Jogja. Saat itu aku lagi cuti dari tempat kerjaku di Sumbawa. Tita masih kuliah profesi di UGM. Sampai 2005, kami masih tinggal berjauhan. Aku udah kerja di Kaltim, sebuah tambang batubara. Juni 2005, habis kontrak. pulang deh ke Jogja. Saat yang menentukan karena kami tinggal bersama, ternyata tinggal bersama sangat beda dengan berjauhan. Tiap hari kami temui hal baru, yang membuatku melihat lebih luas, merasakan lebih banyak, menikmati lebih nyaman….
Tita masih kerja di kampus, sebuah lembaga non profit yang ikut aktif merehabilitasi Aceh pasca tsunami. Untuk wira-wirinya kami sepakat membeli sepeda motor, second, Karisma Hitam 125D. Agak mahal saat itu, 10 jutaan, gak bisa nawarnya kali ya. Motor ini sangat berguna mengantarkan kami ke mana saja, ke Pendekan, kampus, makan, pizza hut, beli baju atau sekedar muter2 Jogja, ngecek lampu bangjo di tiap simpangan yang memakan waktu 3 – 5 menit…hmm takes time at that time.
Suatu hari tanda kehamilan mengusik hari-hari kami, apa iya. Tes aja lah, kataku. Apotek Maryati dekat 1/4 Taman sari dengan pak penjual bakpao menjadi saksi betapa “susah dan berat hati” untuk terbeli alat test. Dan meski akhirnya dengan penuh harap dan semangat terbeli juga, itu pun baru dipake ngetes besoknya. 2 strip alias positif, ketemu lah kami dengan dokter senor di Permata Hati. Alhamdulillah.
Kehadiran janin ini menguatkan harapan kami akan masa depan yang terbentang luas.
ayam goreng gurih (with lengkuas optional)
sore ini aku bikin ayam goreng lengkuas. setelah searching dapatlah satu gambaran bumbu dan cara mem buatnya. Yang kukerjakan kali ini bumbu halus ditumis lebih dulu. Hasilnya cukup enak tapi penambahan lengkuas parut ternyata menyita minyak cukup banyak dalam penumisan. masih penasaran, aku search lagi dan nemu satu resep dari mbak Fatmah B yang kurang lebih rasanya seperti yang kucari. Di resepnya mbak Fatmah ini bedanya : BUMBU HALUS TIDAK DITUMIS. nah, mungkin nanti malam akan kucoa. Laporannya akan kupost mendatang ya.
Ayam Goreng Ungkep
lauk tumpeng
:: Penulis : Fatmah Bahalwan http://ncc-indonesia.com/detail.php?aid=141
1 ekor ayam, potong 8
Bumbu, haluskan :
5 bh bawang putih
1 ruas kunyit
1 sdm ketumbar
1 btg lengkuas
1 ruas jahe
3 btr kemiri
1 sdt garam
Cara Membuat :
Baluri ayam dengan bumbu halus, masak dalam panci atau wajan tertutup sampai ayam keluar air dan matang. Angkat.
Goreng dalam minyak banyak bersama bumbunya.
Tips:
Bila suka bisa ditambahkan lengkuas parut jumlah banyak, sehingga didapat bumbu kremes seperti serundeng
Concreting the terrace
7-8 Maret 2009. Halaman depan dan samping diplester. Aku minta bantuan ke pak Kaji, tukangnya Daksa. Dikerjakan 4 orang, 1.5 hari sudah selesai. Tujuannya agar halaman samping dan depan kamar Raihan bisa berguna.
Awalnya hanya kubeli 5 sak semen, 170 batako dan 1 rit pasir. Untuk pengerjaan teras ini kami udah punya 15m2 paving blok hexagonal. Karena kerjaan bertambah, cor halaman samping-cor car port, pasang paving dan buat car port baru di depan kamar Raihan maka setengah pasir di belakang diangkut ke depan dan semen ditambah lagi 11 sak dan udah kepake 8. hmm banyak juga. Karena ada jembatan harus menggunakan besi 0.8 SSI, ah gak tau satuan apalagi.
Anyway sekarang udah jadi, bagus dan si Raihan seneng banget bisa main di setiap tempat. Kerjaan selanjutnya adalah mengeramik halaman samping dan memasang atap serta masang dinding samping setinggi 2 meter + setengah meter ke depan.
Materialnya kira2 butuh 300 batako, besi cor 10 batang, semen 6 sak, pasir setengah rit, kayu untuk rangka genteng dan tiangnya, sekalian gentengnya multi roof 12 meter2.
300 batako = 720,000
besi cor = 300,000
semen 6 sak = 378,000
pasir 1 rit = 600,000
kayu = ?
keramik 12 m2 = 600,000
genteng 12 m2 = 432,000
total 3,030,000
Ini belum ongkos tukang lho. halaman belakang juga belum ?
Akhirnya halaman belakang dikerjakan juga, sekalian tandon bawah tanah, sebagai chamber sebelum dinaikkan ke atas. Nah pagar juga dibuat dengan panjang 9 meter, dan di bagian atas dibuat pot untuk tanaman memanjang. sehingga tidak melulu concrete tapi masih ada hijaunya.

ALERGI
Kata yang akrab dalam benakku sejak 2 tahun terakhir. Anak di bawah 5 tahun masih berpotensi terkena alergi, apalagi jika dari riwayat orang tua juga ada alergi. Wujudnya bisa macem-macem, mulai dari bercak merah di kulit, sariawan, gusi ngilu, diare, batuk, bla…bla… banyak. Duh menghadapinya seperti jadi paranoid, tapi mungkin bukan paranoid tapi waspada..teliti…dan konsisten.
Pencetusnya juga macem-macem, tiap anak beda. Ada susu sapi-kacang-kacangan-coklat-ikan laut- kuning telur….weks banyak deh. Debu-dingin-panas-bisa juga jadi penyebabnya.
Alergi ini gift atau curse ?
Tergantung menyikapinya, hikmahnya jadi teliti saat makan, dll. Kita bisa men jadi lebih menyiapkan diri saat akan bertemu dengah pencetusnya. Aku pikir bisa dikendalikan dengan pikiran, ya memang kalo anak kecil belum bisa.

Sayangnya di Sangatta Town tidak aku taperoleh jawaban yang memuaskan mengenai alergi, bagaimana tata laksananya, dan alergi apa sebenarnya. huh…pertanyaan besar ini harus dijawab dengan tindakan yang super besar dan sudah dalam rencana kami. ok plan udah ada dan tinggal tunggu waktunya siap dieksekusi.
ada grupnya di facebook “http://www.facebook.com/group.php?gid=60123919160″
impact drill
Bosch merknya, tipe 350 RE jadi bisa putar kiri – kanan.
Gak rugi ternyata punya bor ini, bisa menjawab beberapa keterbatasan karena dinding rumah berupa beton keras. Beton gak bisa dipaku, mental kalo gak ya bengkok. Lha mau masang kapstok di pintu aja bingung, harus dibor juga baru dipaku.
hmm teknologi yang memudahkan. btw wattnya hanya 350 watt aja & praktis. Tapi repotnya satu, kalo Abyan atau Raihan ikutan main di sekitaran bor2 ini, bahaya kan. dalam keadaan tanpa beban bisa muter 2500 rpm, cepet banget kan. oiya aku ternyata punya mata obeng baja yang bisa juga dipasang di bor tersebut, jadi bisa mengencangkan atau mengendorkan baut.
jadinya jam bisa terpasang, korden, kapstok, klem kabel, dll. rencananya mau buat rak di dapur di atas meja dapur.kan masih rencana, kompletnya ntar dipublish juga fotonya.
Awalnya gak kebayang main bor2an, jadi tau sekarang. sekrup, fisher, mata bor kayu-besi-concrete, bla..blaa…
Coba kemarin masangkan korden ke orang sekalian beli, wuah bisa kempez kantong, sudah kuhemat 1 point di sini. hmm smarter – richer.

Mengayuh sepeda merahku
Hai ….
Hari ini tanggal 31 Januari 2009 pas di umur Raihan yang ke 2 tahun 8 bulan dia udah bisa mengayuh sepedanya secar a penuh. Duh senangnya aku waktu siang tadi nyuapin makan sambil bersepeda. Sore harinya saking bersemangat nyepeda jauh dia jadi kecapean dan kehausan. Lari-lari pulang ke rumah, waktu ditanya jawabnya “Haus, mau minum.” He…he…he…..Aku pesani dia untuk bawa minuman kalau bersepeda, dan Raihan mengangguk-ngangguk.
Bontang one night –
12 Januari 2008 jam 17.45 aku, mas wawan dan Raihan berangkat ke Bontang untuk ketemu dr.Made Tirta Yasa,Sp.A. Setelah melalui rangkaian panjang ketemu dengan dokter anak dan cek Laboratorium di Yogya selama liburan, aku dan mas akan mengikatnya dengan konsul di Bontang. Di jalan jelas kami sepakat, kami ingin dapat kesimpulan dan kata dokter tersebut tentang sakitnya Raihan. Bisa jadi diterima atau bias nggak. Dengan kesungguhan dan Insya Allah keikhlasan, walau badan belum hilang lelahnya karena baru 2 hari tiba dari Yogya dan kelar kerja, kami berangkat. Poros Sangatta – Bontang yang parah kami nikmati biar nggak bete. Sempat mual-mual sih karena badan goyang-goyang dan kebanting-banting engaapi relaks aja lah. Mas Wawan mungkin deritanya lebih parah.dia belum makan sebelum pergi dan harus nyopir. Yang lebih utama, si pelaku utamanya yaitu Raihan anteng anteng saja sampai tiba kembali di Sengata Sampai di Bontang jam 20.10, nunggu antrian 15 menit kemudian masuk. Dokternya menerangkan dengan jelas. Dia kasih penjelasan yang sederhana tapi masuk akal.gitu juga dengan sarannya. Diagnosanya alergi Jadi sarannya Raihan minum susu Soya dulu, tidak makan telur, kacang-kacangan. Dilihat 1 bulan lagi, kemudian di Mantoux test sekali lagi untuk meyakinkan. Mantaux yang sebelumnya negative. Kami pulang dengan hati yang luar biasa lega. Meskipun baru makan malam jam 22.00 nggak papa deh, yang penting nggak ada masalah berat. Terimakasih buat Ima Bontang dan keluarga yang sudah menyambut dengan hangat. Bontang ditinggalkan sampai 23.00 dan sampai sangata jam 01.30.
Capek besok masih kerja lagi …tapi bahagia ….
BERPIKIR KRITIS
Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
One-day Assessment Centre

Ditayangkan di KOMPAS, 5 Juli 2008
Dengan maraknya milis dan forum diskusi yang berkomentar mengenai berbagai gejala, ada satu hal yang semakin berkembang yaitu sikap kritis individu. Ini tentu ada hubungannya dengan pendidikan dan sistem informasi yang semakin mudah di akses, sehingga siapa saja, asal mau, bisa mempertanyakan situasi, keputusan dan segala macam pernyataan dan fenomena yang ada. Bukan saja pertanyaan, ungkapan perasaan, ketidaksesuaian pendapat, bahkan tuntutan juga terdengar, terbaca dan terlihat. Simak saja wacana mengenai Arus Minyak Nasional, yang melibatkan protes mahasiswa, DPR, partai, badan eksekutif dan masyarakat banyak. Pertanda apakah ini? Selain demokrasi, kita bisa beranggapan bahwa generasi muda, yang akan menghadapi abad selanjutnya, sudah mempunyai daya pikir yang lebih “advanced”: “Good” thinking is an important element of life success in the information age” demikian Thomas & Smoot, 1994.
Kita pasti setuju bahwa kegitan berpikir adalah kegiatan yang super mulia dan merupakan anugerah Tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada mahluk lain di dunia ini yang bisa berpikir dengan cara secanggih manusia. Dengan adanya kegiatan berpikirlah manusia mampu menggambarkan isi dunia ini. Dan dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah diuji, di bolak balik dan dikulik di masyarakat kita, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berpikirnya.
Sikap Mental untuk Berbeda Pendapat
Aturan dan tata krama yang diajarkan orang tua dan guru kita dulu, misalnya untuk tidak membantah, tidak berdebat untuk menjunjung harmoni, kita sadari ternyata tidak selamanya menyuburkan cara berpikir. Kita sering lupa bahwa kita punya kewajiban untuk mengasah cara pikir kita, baik di sekolah maupun setelah keluar dari sistem pendidikan. Dalam perjalanan hidup, saya menyaksikan bahwa kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru dari di-”adu”-nya pendapat kita dengan kritik, pertanyaan, keraguan orang lain, bahkan setelah perdebatan sengit. Yang paling penting, sikap mental kita juga perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik serta sanggahan.
Para ahli menyarankan agar berfokus pada isu dan bukan pada orangnya, sebagai landasan sikap rasional yang perlu dikembangkan dalam menembak masalah, menelurkan solusi, dan bukan mengumbar emosi serta kesalahan. Di sini, kita pun bisa mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih pendapat, karena kita tidak “sealiran” atau tidak menyukai individu yang berpendapat.
Saat sekarang, kita juga semakin sadar bahwa sekedar ‘asbun’ (asal bunyi, asal ngomong), tanpa berlatih bertanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya, malahan bisa menjatuhkan harga diri dan kewibawaan kita sendiri. Namun demikian, memang masih banyak kita temui orang yang berpendapat tetapi tidak bertanggung jawab, misalnya, seorang sales manager yang mengatakan:”…Di perusahaan ini, sistem administrasi kacau. Masakan tanda terima barang bisa ditandatangani oleh seorang salesman tanpa diketahui oleh penerima barangnya…” Pernyataan yang di lempar tanpa memikirkan follow up, sekedar menyulitkan orang lain dan tanpa disertai tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah pembuka diskusi yang sehat. Individu yang ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intelektual, perlu berlatih mencermati gejala, tulisan, tindakan atau keputusan dengan hati-hati, ”dalam” dan berusaha mendapatkan ”point” dari isu tersebut. Seruan misalnya :”turunkan BBM” , “turunkan harga sembako” akan lebih intelek bila yang berseru sudah mempelajari , apakah gejala kenaikan BBM ini melulu disebabkan oleh korupsi atau gelaja yang mendunia. Kita pun perlu membedakan fakta dari pendapat, kasus dari gejala umum, membersihkan ”bias” selain juga tidak berpikir ”hitam putih” saja, dan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita sebelumnya tidak tahu.
Pemikir Sehat
Individu , tidak terlepas berapa usianya, sering tidak menyadari kesalahan berpikirnya. Ada yang dari muda sampai tua tetap keras kepala. Ada juga yang tidak pernah sadar bahwa ia “sok tahu” , meyakini sesuatu tanpa pernah meng”update” ataupun mengecek kebenarannya lebih lanjut. Banyak juga orang berasumsi bahwa kekuatan berpikir berkorelasi besar dengan IQ, tingkat kecerdasan. Bila ada orang pintar berpendapat, orang cenderung meng-iya-kan, dan setuju. Fenomena “tunduk pada yang cerdas” ini sering menumbuhkan sikap submisif dalam kegiatan mengasah cara fikir kita. Sebenarnya cara berfikir bisa dikembangkan dengan cara yang sangat simpel: memelihara kegiatan mempertanyakan, beranggapan bahwa setiap kebenaran itu sementara, dan bersikap “undogmatic” .Kegiatan ini sudah bisa kita amati di acara acara debat di televisi maupun radio. Hanya saja, kalau benar benar ingin sehat kitapun perlu
menyadari bahwa otak hanya bisa menyerap sedikit informasi dibandingkan informasi yang tersedia, mengenai suatu isu. Dengan keterbatasannya, otak sering melakukan ”oversimplifications” yang berakibat pada penyaringan fakta, keterbatasan berpikir, dan bahkan tercampurnya fakta, asumsi, maupun keyakinan individu. Berarti, bila kita ingin diterima sebagai pemikir obyektif, kita pun perlu siap membuka pikiran seperti layaknya seorang anak sekolah,menyerap informasi sebanyak banyaknya, baru kemudian memilah dan menyaring sehingga presisi, akurasi, relevansi, logika dan kedalaman bisa tercapai secara optimal.
Mendorong Pencerdasan Bangsa
Saat sekarang, di mana semakin marak sekolah nasional plus, universitas swasta yang harganya bahkan bersaing dengan universitas negeri, gratisnya biaya sekolah, sangat menjanjikan tercapainya pencerdasan bangsa. Sudah waktunya kita bisa berharap untuk berada di kancah berpikir yang obyektif , “terang” dan positif. Meskipun kebenaran tidak disajikan begitu saja, tetap perlu dikorek-korek, dipikirkan, diendapkan dan dicocokkan, namun kita sudah boleh berharap berdiskusi dalam tingkatan yang sama, tidak meraba dalam gelap, penuh kerendahan hati tetapi tetap siap untuk memodifikasi alam pikir kita. Dengan cara inilah kita maju dan jadi pintar, sambil tetap perlu mempunyai ‘ruang’ untuk berpikir inovatif dan kreatif.
EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang
Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax. 021-7590 6442
http://www.experd.com
Bontang one night – visiting the doctor
12 Januari 2008 jam 17.45 aku, mas wawan dan Raihan berangkat ke Bontang untuk ketemu dr.Made Tirta Yasa,Sp.A. Setelah melalui rangkaian panjang ketemu dengan dokter anak dan cek Laboratorium di Yogya selama liburan, aku dan mas akan mengikatnya dengan konsul di Bontang. Di jalan jelas kami sepakat, kami ingin dapat kesimpulan dan kata dokter tersebut tentang sakitnya Raihan. Bisa jadi diterima atau bias nggak.
Dengan kesungguhan dan Insya Allah keikhlasan, walau badan belum hilang lelahnya karena baru 2 hari tiba dari Yogya dan kelar kerja, kami berangkat. Poros Sangatta – Bontang yang parah kami nikmati biar nggak bete. Sempat mual-mual sih karena badan goyang-goyang dan kebanting-banting engaapi relaks aja lah. Mas Wawan mungkin deritanya lebih parah.dia belum makan sebelum pergi dan harus nyopir. Yang lebih utama, si pelaku utamanya yaitu Raihan anteng anteng saja sampai tiba kembali di Sengata
Sampai di Bontang jam 20.10, nunggu antrian 15 menit kemudian masuk. Dokternya menerangkan dengan jelas. Dia kasih penjelasan yang sederhana tapi masuk akal.gitu juga dengan sarannya.
Diagnosanya alergi
Jadi sarannya Raihan minum susu Soya dulu, tidak makan telur, kacang-kacangan. Dilihat 1 bulan lagi, kemudian di Mantoux test sekali lagi untuk meyakinkan. Mantaux yang sebelumnya negative.
Kami pulang dengan hati yang luar biasa lega. Meskipun baru makan malam jam 22.00 nggak papa deh, yang penting nggak ada masalah berat. Terimakasih buat Ima Bontang dan keluarga yang sudah menyambut dengan hangat. Bontang ditinggalkan sampai 23.00 dan sampai sangata jam 01.30.
Sepeda Baru
17 January 2009, Raihan dibelikan sepda baru oleh mamanya. Warnanya merah, keren bok. Wim Cycle.
Beli di Toko Anita, Sangatta Lama. Raihan seneng banget. Yaa karena masih kecil, belum 3 tahun, ya masih belum bisa ngayuh, kebiasaan ngayuh ke belakang, kan gak berat.
Sepeda lamanya sementara dipensiunkan, diparkir di teras depan. nanti giliran adiknya, Abyan yang pake.
Dituntun ke sana kemari, dari kiri pindah kanan. Kalo mau jalan ya didorong pake kayu/tongkat.
-
Recent
-
Links
-
Archives
- July 2009 (2)
- May 2009 (1)
- April 2009 (1)
- February 2009 (4)
- January 2009 (3)
- December 2008 (5)
- November 2008 (1)
- October 2008 (1)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS







