Mumtazfamily's Weblog

happy family

impact drill

Bosch merknya, tipe 350 RE jadi bisa putar kiri – kanan.

Gak rugi ternyata punya bor ini, bisa menjawab beberapa keterbatasan karena dinding rumah berupa beton keras. Beton gak bisa dipaku, mental kalo gak ya bengkok.  Lha mau masang kapstok di pintu aja bingung, harus dibor juga baru dipaku.

hmm teknologi yang memudahkan. btw wattnya hanya 350 watt aja & praktis.  Tapi repotnya satu, kalo Abyan atau Raihan ikutan main di sekitaran bor2 ini, bahaya kan.  dalam keadaan tanpa beban bisa muter 2500 rpm, cepet banget kan. oiya aku ternyata punya mata obeng baja yang bisa juga dipasang di bor tersebut, jadi bisa mengencangkan atau mengendorkan baut.

jadinya jam bisa terpasang, korden, kapstok, klem kabel, dll.  rencananya mau buat rak di dapur di atas meja dapur.kan masih rencana, kompletnya ntar dipublish juga fotonya.

Awalnya gak kebayang main bor2an, jadi tau sekarang.  sekrup, fisher, mata bor kayu-besi-concrete, bla..blaa…

Coba kemarin masangkan korden ke orang sekalian beli, wuah bisa kempez kantong, sudah kuhemat 1 point di sini. hmm smarter – richer.

dsc_00221

February 28, 2009 Posted by | break thru | Leave a Comment

Mengayuh sepeda merahku

Hai ….

Hari ini tanggal 31 Januari 2009 pas di umur Raihan yang ke 2 tahun 8 bulan dia udah bisa mengayuh sepedanya secar a penuh. Duh senangnya aku waktu siang tadi nyuapin makan sambil bersepeda. Sore harinya saking bersemangat nyepeda jauh dia jadi kecapean dan kehausan. Lari-lari pulang ke rumah, waktu ditanya jawabnya “Haus, mau minum.” He…he…he…..Aku pesani dia untuk bawa minuman kalau bersepeda, dan Raihan mengangguk-ngangguk.

February 28, 2009 Posted by | 1 | Leave a Comment

Bontang one night –

12 Januari 2008 jam 17.45 aku, mas wawan dan Raihan berangkat ke Bontang untuk ketemu dr.Made Tirta Yasa,Sp.A. Setelah melalui rangkaian panjang ketemu dengan dokter anak dan cek Laboratorium di Yogya selama liburan, aku dan mas akan mengikatnya dengan konsul di Bontang. Di jalan jelas kami sepakat, kami ingin dapat kesimpulan dan kata dokter tersebut tentang sakitnya Raihan. Bisa jadi diterima atau bias nggak. Dengan kesungguhan dan Insya Allah keikhlasan, walau badan belum hilang lelahnya karena baru 2 hari tiba dari Yogya dan kelar kerja, kami berangkat. Poros Sangatta – Bontang yang parah kami nikmati biar nggak bete. Sempat mual-mual sih karena badan goyang-goyang dan kebanting-banting engaapi relaks aja lah. Mas Wawan mungkin deritanya lebih parah.dia belum makan sebelum pergi dan harus nyopir. Yang lebih utama, si pelaku utamanya yaitu Raihan anteng anteng saja sampai tiba kembali di Sengata Sampai di Bontang jam 20.10, nunggu antrian 15 menit kemudian masuk. Dokternya menerangkan dengan jelas. Dia kasih penjelasan yang sederhana tapi masuk akal.gitu juga dengan sarannya. Diagnosanya alergi Jadi sarannya Raihan minum susu Soya dulu, tidak makan telur, kacang-kacangan. Dilihat 1 bulan lagi, kemudian di Mantoux test sekali lagi untuk meyakinkan. Mantaux yang sebelumnya negative. Kami pulang dengan hati yang luar biasa lega. Meskipun baru makan malam jam 22.00 nggak papa deh, yang penting nggak ada masalah berat. Terimakasih buat Ima Bontang dan keluarga yang sudah menyambut dengan hangat. Bontang ditinggalkan sampai 23.00 dan sampai sangata jam 01.30.

Capek besok masih kerja lagi …tapi bahagia ….

February 28, 2009 Posted by | mumtaz | Leave a Comment

BERPIKIR KRITIS

Eileen Rachman & Sylvina Savitri
EXPERD
One-day Assessment Centre

anakkreatif

Ditayangkan di KOMPAS, 5 Juli 2008

Dengan maraknya milis dan forum diskusi yang berkomentar mengenai berbagai gejala, ada satu hal yang semakin berkembang yaitu sikap kritis individu. Ini tentu ada hubungannya dengan pendidikan dan sistem informasi yang semakin mudah di akses, sehingga siapa saja, asal mau, bisa mempertanyakan situasi, keputusan dan segala macam pernyataan dan fenomena yang ada. Bukan saja pertanyaan, ungkapan perasaan, ketidaksesuaian pendapat, bahkan tuntutan juga terdengar, terbaca dan terlihat. Simak saja wacana mengenai Arus Minyak Nasional, yang melibatkan protes mahasiswa, DPR, partai, badan eksekutif dan masyarakat banyak. Pertanda apakah ini? Selain demokrasi, kita bisa beranggapan bahwa generasi muda, yang akan menghadapi abad selanjutnya, sudah mempunyai daya pikir yang lebih “advanced”: “Good” thinking is an important element of life success in the information age” demikian Thomas & Smoot, 1994.

Kita pasti setuju bahwa kegitan berpikir adalah kegiatan yang super mulia dan merupakan anugerah Tuhan yang paling besar bagi manusia, karena tidak ada mahluk lain di dunia ini yang bisa berpikir dengan cara secanggih manusia. Dengan adanya kegiatan berpikirlah manusia mampu menggambarkan isi dunia ini. Dan dengan adanya pemikiran-pemikiran yang sudah diuji, di bolak balik dan dikulik di masyarakat kita, kita bisa yakin bahwa bangsa kita sudah mengalami kemajuan dalam proses berpikirnya.

Sikap Mental untuk Berbeda Pendapat

Aturan dan tata krama yang diajarkan orang tua dan guru kita dulu, misalnya untuk tidak membantah, tidak berdebat untuk menjunjung harmoni, kita sadari ternyata tidak selamanya menyuburkan cara berpikir. Kita sering lupa bahwa kita punya kewajiban untuk mengasah cara pikir kita, baik di sekolah maupun setelah keluar dari sistem pendidikan. Dalam perjalanan hidup, saya menyaksikan bahwa kesempatan untuk menumbuhkan dan mematangkan keputusan dan konsep justru dari di-”adu”-nya pendapat kita dengan kritik, pertanyaan, keraguan orang lain, bahkan setelah perdebatan sengit. Yang paling penting, sikap mental kita juga perlu kita siapkan untuk memberi dan menerima kritik serta sanggahan.

Para ahli menyarankan agar berfokus pada isu dan bukan pada orangnya, sebagai landasan sikap rasional yang perlu dikembangkan dalam menembak masalah, menelurkan solusi, dan bukan mengumbar emosi serta kesalahan. Di sini, kita pun bisa mawas diri bahwa kita sering terjebak berselisih pendapat, karena kita tidak “sealiran” atau tidak menyukai individu yang berpendapat.

Saat sekarang, kita juga semakin sadar bahwa sekedar ‘asbun’ (asal bunyi, asal ngomong), tanpa berlatih bertanggung jawab terhadap tindak lanjut pendapatnya, malahan bisa menjatuhkan harga diri dan kewibawaan kita sendiri. Namun demikian, memang masih banyak kita temui orang yang berpendapat tetapi tidak bertanggung jawab, misalnya, seorang sales manager yang mengatakan:”…Di perusahaan ini, sistem administrasi kacau. Masakan tanda terima barang bisa ditandatangani oleh seorang salesman tanpa diketahui oleh penerima barangnya…” Pernyataan yang di lempar tanpa memikirkan follow up, sekedar menyulitkan orang lain dan tanpa disertai tanggung jawab untuk mencari solusi bukanlah pembuka diskusi yang sehat. Individu yang ingin masuk ke dalam kancah perdebatan intelektual, perlu berlatih mencermati gejala, tulisan, tindakan atau keputusan dengan hati-hati, ”dalam” dan berusaha mendapatkan ”point” dari isu tersebut. Seruan misalnya :”turunkan BBM” , “turunkan harga sembako” akan lebih intelek bila yang berseru sudah mempelajari , apakah gejala kenaikan BBM ini melulu disebabkan oleh korupsi atau gelaja yang mendunia. Kita pun perlu membedakan fakta dari pendapat, kasus dari gejala umum, membersihkan ”bias” selain juga tidak berpikir ”hitam putih” saja, dan membuka diri terhadap segala kemungkinan yang kita sebelumnya tidak tahu.

Pemikir Sehat

Individu , tidak terlepas berapa usianya, sering tidak menyadari kesalahan berpikirnya. Ada yang dari muda sampai tua tetap keras kepala. Ada juga yang tidak pernah sadar bahwa ia “sok tahu” , meyakini sesuatu tanpa pernah meng”update” ataupun mengecek kebenarannya lebih lanjut. Banyak juga orang berasumsi bahwa kekuatan berpikir berkorelasi besar dengan IQ, tingkat kecerdasan. Bila ada orang pintar berpendapat, orang cenderung meng-iya-kan, dan setuju. Fenomena “tunduk pada yang cerdas” ini sering menumbuhkan sikap submisif dalam kegiatan mengasah cara fikir kita. Sebenarnya cara berfikir bisa dikembangkan dengan cara yang sangat simpel: memelihara kegiatan mempertanyakan, beranggapan bahwa setiap kebenaran itu sementara, dan bersikap “undogmatic” .Kegiatan ini sudah bisa kita amati di acara acara debat di televisi maupun radio. Hanya saja, kalau benar benar ingin sehat kitapun perlu

menyadari bahwa otak hanya bisa menyerap sedikit informasi dibandingkan informasi yang tersedia, mengenai suatu isu. Dengan keterbatasannya, otak sering melakukan ”oversimplifications” yang berakibat pada penyaringan fakta, keterbatasan berpikir, dan bahkan tercampurnya fakta, asumsi, maupun keyakinan individu. Berarti, bila kita ingin diterima sebagai pemikir obyektif, kita pun perlu siap membuka pikiran seperti layaknya seorang anak sekolah,menyerap informasi sebanyak banyaknya, baru kemudian memilah dan menyaring sehingga presisi, akurasi, relevansi, logika dan kedalaman bisa tercapai secara optimal.

Mendorong Pencerdasan Bangsa

Saat sekarang, di mana semakin marak sekolah nasional plus, universitas swasta yang harganya bahkan bersaing dengan universitas negeri, gratisnya biaya sekolah, sangat menjanjikan tercapainya pencerdasan bangsa. Sudah waktunya kita bisa berharap untuk berada di kancah berpikir yang obyektif , “terang” dan positif. Meskipun kebenaran tidak disajikan begitu saja, tetap perlu dikorek-korek, dipikirkan, diendapkan dan dicocokkan, namun kita sudah boleh berharap berdiskusi dalam tingkatan yang sama, tidak meraba dalam gelap, penuh kerendahan hati tetapi tetap siap untuk memodifikasi alam pikir kita. Dengan cara inilah kita maju dan jadi pintar, sambil tetap perlu mempunyai ‘ruang’ untuk berpikir inovatif dan kreatif.

EXPERD CONSULTANT
Adding value to business results
Plaza Pondok Indah 3 Blok C/2
Jl. Tb. Simatupang
Jakarta 12310
Telp. 021-7590 6448
Fax. 021-7590 6442

http://www.experd.com

February 2, 2009 Posted by | break thru | , | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.